Jumat, 31 Oktober 2014

 

CERPEN INI MIMPIKU

“RENA…RENA…RENA…RENA…” suara ribuan penonton telah memadati balai sartika. Suara yang menyerukan namaku, lampu sorot telah menari-nari dengan anggun seakan ingin menunjukkan kesan mewah. Music pembuka telah dilantunkan, ketika aku menyusuri lorong panggung. Sebentar lagi konser tunggal pertamaku akan ku gelar, jantung ku berdebar kencang, nafasku sangat sulit ku atur, dan keringat dingin mulai membasahiku. Tidak, ini tidak boleh gagal karena ini adalah mimpiku. Aku mencoba menenangkan diri dengan menutup mata dan mengingat perjuangan ku yang penuh duri dan jalan labirin.
Adzan subuh membangunkan ku dari mimpi yang begitu indah, dengan kesadaran yang masih berantakan ku seret kakiku menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah sholat, aku menuju dapur untuk membantu ibu menyiapkan dagangan pisang gorengnya yang akan dia jajakan keliling kompleks sebelah. Ayah telah kembali ke rahmatullah ketika aku masih kelas lima SD, dia mengidap penyakit jantung. Saat itulah, kami menjadi sangat kesulitan dengan masalah keuangan.
Seragam putih biru telah rapih di badan ku, dengan tas yang lusuh dan sepatu yang sudah menganga sedikit aku berangkat ke sekolah bersama adikku reno. Meskipun kami keluarga yang tidak berkecukupan, tapi ibu selalu mementingkan sekolah kami, ibu selalu memasukkan kami ke sekolah yang unggulan. Ibu tidak ingin kami putus sekolah, meski ia harus pontang panting ke sana kemari mencari satu rupiah untuk di tabung.
Itulah mengapa aku dan adikku sangat serius dalam belajar, kami tidak ingin usaha ibu sia-sia.
    Hari ini pelajaran bahasa indonesia, dan kini giliran ku untuk membacakan karangan tentang cita-citaku, ku bacakan dengan lantang dan percaya diri bahwa aku sangat ingin menjadi penyanyi seperti agnes monica yang bisa go internasional dan bisa bersaing dengan rihanna. Setelah aku bacakan semua teman-teman ku tertawa, bahkan ada yang nyeletuk “hahaha… mana ada agnes monica jualan pisang goreng” aku hanya diam dan menunduk sembari bertekad akan ku hapus semua kata-katanya dengan prestasi.
Saat jam istirahat wali kelas memanggilku, uang spp ku belum dibayar tiga bulan, aku kebingungan, bagaimana caranya aku bilang ke ibu tentang ini. Saat jam pulang aku menyusuri gang dekat sekolahku dengan pikiran yang penuh tentang uang spp, ketika ku mendongakkan kepala di dinding gang tersebut dan menemukan selembaran poster lomba menyanyi tingkat SMP dengan hadiah utama RP2.500.000, aku langsung mengambil selembaran itu dan berlari untuk ku tunjukkan ke ibu.
    Suasana di perlombaan begitu meriah, para kontestan lainnya memakai kostum yang sangat bagus, di bandingkan aku yang hanya memakai celana jins dan baju kaos serta sepatu kets yang sudah terlihat usang. Nomor urutku nomor 15, ketika giliran ku telah tiba. aku menarik nafas yang dalam dan melangkah menuju ke panggung, aku lalu menyanyikan lagu yang telah di tentukan.
Aku tak percaya aku masuk babak final yang akan diadakan esok harinya. Aku sampai tak bias tidur menunggu hari esok. Dengan gaun biru dan highheels yang di pinjamkan sahabatku dewi, dewi sempat mengomeliku ketikamengatakan hanya ingin memakai baju kaos dan jeans saja pas final nanti. Dewi juga meminta ibunya untuk meriasku sedikit, dengan menatap bayangan ku di cermin rasa percaya diriku tumbuh. Aku pun menuju tempat lomba bersama ibu, adik, dan dewi. Ketika nama ku di panggil, aku meminta restu kepada ibu agar aku menang,
    Aku menyanyikan lagu seventeen ‘ayah’, setiap syair kunyanyikan dengan memori terus memutar semua kenangan ayah yang ku rindukan, semua kebahagiaan yang beliau selalu berikan, semua kasih saying yang selalu ia berikan, dan bulir airmata itu pun tak dapat ku bending mengingat semua itu. Setelah music berhenti, aku lalu membuka mataku, semua penonton berdiri, ku lihat dari kejauhan ibu menyeka airmatanya.
    Semua terasa begitu indah ketika namaku di panggil sebagai juara satu lomba tersebut, piala yang begitu mengkilap dan hadiah utama, adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku. Dari sini lah aku sering mengikuti lomba menyanyi. Selalin juara, lomba pun membuatku mendapatkan banyak teman. Selain itu, kini au bias membiayai sekolah ku senidiri dan adikku.
    Agensi music DD Entertainment menawariku untuk menjadi penyanyi professional, jadi setelah jenjang SMP, aku pindah ke Jakarta. Di sana selain disekolah kan aku berlatih untuk debut ku sebagai penyanyi. Awalnya, ibu sangat berat untuk melepaskanku tapi aku yakin kan beliau bahwa inilah yang ku maui dan inilah impianku sejak dulu, akhirnya dengan berat hati ibu mengizinkanku untuk ke Jakarta.
    1 tahun aku berlatih dalam asuhan DD Entertainment, tepat 24 juli debutku di mulai, aku sengaja memilih tanggal itu ibuku ulang tahun, aku masih sangat canggung dengan dunia entertainment, setiap hari, waktuku selalu di isi dengan menyanyi dan wawancara. Dan ketika di Tanya apa cita-cita ku, aku menjawab menjadi penyanyi internasional. Setelah menyelesaikan jenjang SMA, aku lalu mulai serius dengan karirku, aku lalu terus berlatih tanpa mengenal rasa lelah, albumku ternyata sangat laku terjual di Malaysia, singapura, Thailand, dan Australia. Langkah demi langkah ku lalui sedikit demi sedikit menjadi penyanyi internasional, semangatku seakan tidak surut untuk terus berlatih. Tenagaku pun seakan tidak pernah habis ketika aku harus manggung di dalam maupun luar negeri. Ibu ku selalu mengingatkanku untuk tidak lupa makan dan sholat, dan itu selalu ku ingat dan ku kerjakan.
    Penghargaan pun terus ku terima bagai air yang mengalir begitu deras, baik bertaraf nasional maupun internasional
Dan suatu hari saat aku telah sukses menjadi penyayi terkenal dan telah go internasional, agensi ku mengatakan bahwa akan mengadakan tour konser tunggal untukku. Tentu saja aku sangat senang, tour ini akan dilaksanakan di 6 negara, Amerika, Malaysia, Singapura, Australia, China, dan indonesia.
    Dan di sinilah aku di negeri paman sam, dengan suara penggemar yang menggema. Ku buka mataku, semua perjuangan ku selama ini, ini adalah hasilnya, segala perjuangan dan pengorbananku kini telah ku lihat hasilnya. aku pun menaiki panggung. Dan ku nyanyikan lagu yang berasal dari jiwaku. Ku nikmati setiap hysteria penggemar sebagai tanda kemenangan seorang anak penjual pisang goreng keliling telah menjadi seorang penyanyi yang terkenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar